Akbar Presidenku, Siapa Presidenmu?

yustiOleh: Yasti Yustia *

Pesta rakyat bertajuk demokrasi tinggal menghitung hari. Hanya sebulan lagi pemilu akbar di bumi pertiwi akan dilaksanakan, dimulai dengan pemilihan anggota legislatif hingga pemilihan kepala negara. Para calon pemimpin negara tentunya tengah mempersiapkan diri dalam kancah perperangan politik di bumi modern nation state bernama Indonesia.

Masyarakat disuguhi beragam program dari para calon-legislatif dan beragam iklan yang tampak hingar-bingar dimana-mana, spanduk dan baliho seakan memenuhi jalanan dan setiap pohon terpampang gambar caleg, yang bertuliskan: coblos saya. Hingga iklan partai dan iklan para politisi dalam media elektronik pun tampak lebih eksis ketimbang para artis yang ada.

DImulai dari iklan partai yang biasa hingga iklan yang tak biasa, bahkan para calon pemimpin negara ini “mendadak artis” dengan menjadi pemain dalam salah satu sinetron. Yah hingar bingar pemilihan umum memang sudah tampak, genderangnya pun tengah ditabuh, tapi mari kita jujur pada diri kita sendiri, siapa sosok calon pemimpin yang kita idam-damkan itu?

Telah banyak pengamalan berharga yang telah dilalui bangsa ini, sudah sepatutnya kita memilih dengan cerdas, memilih pemimpin yang tepat untuk dapat memimpin masyarakat plural yang rawan konflik negeri Indonesia ini. Sejatinya kita dapat memilih tokoh pemimpin yang sudah matang dalam berpolitik, bukan politisi karbitan yang baru kemarin mengenal dunia politik yang “ngeri-ngeri sedap” tapi figur politisi profesional yang berahlak mulia, penyayang, punya integritas moral dan memiliki semangat konsensus.

Artinya pemikiran dan langkah-langkah praktis politiknya lebih mengedepankan jalur kompromi atau kerjasama ketimbang angkat senjata. Heterogenitas sosial budaya di Indonesia dengan pelbagai varian politiknya yang berserakan, tentu membutuhkan figur yang mampu menghimpun segenap potensi budaya bangsa yang terserak menjadi satu kekuatan yang unik, menarik, kokoh dan nyaman. Figur politisi profesional seperti inilah yang kita butuhkan untuk memimpin indonesia masa depan, untuk dapat bersaing dan bahkan dapat menjadi Macan Asia dalam perekonomian global.

Melihat kondisi persiapan pertempuran pemilihan kepala negara, sepatutnya kita melihat sosok yang politisi besar, politisi profesional Akbar Tandjung yang tidak pernah lelah membangun Indonesia. Yang tidak pernah berhenti memikirkan nasib rakyat Indonesia, meski hujatan betubi-tubi dialamatkan pada sosok politisi yang memiliki kearifan politik ini.

“Akbar Tandjung bukan saja oke,tetapi sering dibicarakan sebagai salah seorang pemimpin politik yang piawai, bervisi, dan bersikap kenegarawanan serta dinilai juga memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan pemerintahan,” begitu Harian Kompas menjulukinya (22/08/2000).

Selaku masyarakat tentunya kita harus memilih dengan cerdas siapa presiden kita berikutnya: “Akbar Presidenku, siapa Presidenmu?”

* Yasti Yustia adalah aktifis mahasiswa, penulis di Kompasiana.

Akbar Tandjung: Penyelesaian Masalah Tidak Dengan Nuansa Politis

Selasa, 4/2/2014 lalu bertempat di KAHMI Center, Senopati, Jakarta Selatan diselenggarakan Seminar “Peran Strategis Panas Bumi (Geotermal)” bersama pembicara Ir. Trisnaldi, Direktur Panas Bumi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Rony Gunawan, Direktur Pertamina Geotermal Energy, yang dipandu oleh moderator Suryadarma yang juga merupakan seorang geolog dan pemerhati energi panas bumi, serta keynote-speaker oleh Akbar Tandjung. Seminar ini membahas tentang revisi Undang-Undang Panas Bumi No. 27/2003 yang disahkan DPR pada masa Akbar menjabat sebagai Ketua DPR-RI.

Dalam sambutan membuka seminar tersebut, Akbar mengatakan saat sekarang Indonesia mengalami beragam krisis, mulai dari masalah pangan hingga pada krisis energi, khususnya listrik yang tidak lagi sesuai harapan masyarakat. Padahal Indonesia memiliki banyak sumber daya alam termasuk energi panas bumi, yang disebutkan mencapai 40% dari energi panas bumi dunia.

Krisis kelistrikan umpamanya saja yang terjadi di Sumatera Utara dan ini telah menjadi masalah nasional. Akbar juga menyebutkan penyelesaiannya harus lebih pada nuansa teknis (kondisi nyata dan sesuai sosio-kemasyarakatan) tidak hanya diselesaikan dengan nuansa politis melalui jalur politik formal.

 

Ceremai Tidak Dijual

Moderator, Suryadarma dalam seminar tersebut mengatakan posisi Indonesia yang terletak di jalur “cincin api” atau pegunungan berapi sebenarnya mendapatkan lebih banyak manfaat dari posisi tersebut, karena memiliki sumber daya panas bumi yang dapat di eksplorasi secara maksimal. Energi panas bumi ini memiliki karakteristik sebagai energi terbarukan, dan harus diserap habis sesuai produksi yang dihasilkannya.

Sementara Trisnaldi sebagai Direktur Panas Bumi, KESDM, mengatakan energi panas bumi bukan merupakan pertambangan dan ini merupakan poin penting yang harus direvisi dari Undang-Undang Panas Bumi. Menyinggung hoax (berita burung) yang berkembang di dunia maya, telah dijualnya Gunung Ceremai di Jawa Barat kepada pihak asing (Chevron), Trisnaldi menyebutkan pemerintah tidak menjual gunung tersebut. Eksplorasi energi panas bumi hanya memerlukan lahan sekitar 4 atau 6 hektar saja, sedangkan Gunung Ceremai tersebut sangat luas bahkan mencakup beberapa kabupaten.

Menjawab pertanyaan masyarakat di daerah-daerah yang selama ini telah mengeksplorasi energi panas bumi namun tidak mendapatkan listrik, Trisnaldi meminta agar masyarakat segera melaporkan kasus-kasus seperti ini kepada pihaknya. Sementara Suryadarma menyebutkan persoalan ini harus ditanggulangi oleh PLN sebagai pendistribusi listrik kepada masyarakat. Karena listrik yang dihasilkan oleh proyek energi panas bumi merupakan listrik bertegangan tinggi hingga 175 KV. Dia mencontohkan pada proyek di Garut, listrik yang dihasilkan mencapai 225 MW dengan tegangan 150 KV, PLN yang bertugas mengubah tegangan tersebut agar dapat digunakan oleh masyarakat. **